Semalam
aku bermimpi. Sebuah mimpi mengerikan yang kuingin tak akan pernah terjadi.
Cerita ini bermula ketika aku,
seorang pangeran berkuda hitam, mendapat amanat untuk menyelamatkan seorang
putri yang disekap di dalam sebuah istana di suatu negeri antah berantah nun
jauh di sana. Sang putri harus diselamatkan sebelum pukul 8 pagi.
Tersebutlah seorang raja, ayah sang
putri, yang membuatku mau tak mau harus terjun dalam tugas ini. Raja ini tidak
kenal waktu, dengan seenaknya beliau memberikan batas waktu sementara beliau
mentitahkan segala sesuatu padaku baru saja pukul 6 pagi ini.
Maka tanpa pikir panjang, dengan
sedikit bekal yang ada kupacu Marion, kuda hitam kesayanganku menuju negeri
antah berantah untuk menyelamatkan sang putri. Perjalanan terasa mengerikan
karena waktu mengejar di belakangku. Sang
putri harus diselamatkan sebelum pukul 8 pagi. Hal itu terus terngiang di
kepalaku.
Sial. Di depan sana aku melihat
segerombol singa lapar memenuhi satu – satunya jalan yang bisa ditapak oleh
Marion. Langkahku terhenti beberapa saat untuk menunggu singa – singa ini pergi
menjauh.
Matahari sudah meninggi kala jalan
setapak sudah tak penuh dengan singa lapar. Langsung saja kupaksa Marion untuk
melanjutkan perjalanan menuju istana tempat putri disekap. Aku tak peduli lagi
dengan mentari yang semakin lama semakin terik mengantarkan siang harinya.
Pukul 12 siang. Barulah aku sampai
di depan gerbang istana. Hatiku sudah tak karuan lagi memikirkan bagaimana
nasib sang putri yang harus menungguku selama enam jam itu.
Tanpa pedang di tangan aku berlari
melintasi ballroom gelap bercat merah
dengan tiang – tiang menjulang tinggi. Di ujung ballroom itu kulihat mayat seorang wanita berlumuran darah
tergeletak di samping pengawalnya yang juga sudah tak bernyawa.
Aku terlambat, ya, aku terlambat .
Sang putri tewas dan aku pun gagal memenuhi tugas yang diberikan padaku.
Diceritakan
kembali dari mimpi tadi malam, Agustus 2012

